Jakarta (Pinmas)—Bangsa Indonesia nyaris kehilangan budaya malu,
disebabkan untuk mengukur kemajuan atau sukses suatu bangsa lebih
menggunakan pendekatan pada sumber daya, kesukuan dengan menjauhkan
budaya hidup positif dalam kehidupan sehari-hari.
Imam Muhta menambahkan, Budaya hidup sangat menentukan bagi kemajuan
suatu bangsa. Budaya malu perlu dikedepankan, sebab seberapa besar
tingkat kesalahan seseorang akan mempengaruhi kinerja suatu organisasi.
Jika yang bersangkutan salah, lantas mundur dan melepas jabatannya
merupakan sikap terpuji sebelum ke depannya merugikan banyak orang,
Hal itu bisa dilihat dari budaya malu di Jepang. Orang setingkat
menteri saja mundur karena berbuat salah. Tanpa diminta. Bahkan ada yang
melakukan harakiri atau bunuh diri, karena budaya malu demikian kuat.
Di negeri itu juga orang menghormati orang tua, di kantor maupun di
rumah.
Jika dilihat dari fenomena yang ada di tanah air, budaya malu
benar-benar diabaikan. Seseorang baru mundur dan melepaskan jabatannya
setelah masuk bui. Dipaksa untuk mundur. Padahal, dalam Islam, mengejar
jabatan sangat dijauhkan. Karena jabatan yang diemban itu melekat
tanggung jawab yang diamanahkan kepadanya. Amanah itu harus
dipertanggungjawabkan, katanya.
Sukses seseorang atau suatu negara, lanjut Imam, juga bukan
tergantung pada warna kulit, usia dan kepandaian. Negara Mesir tergolong
tua, warganya juga banyak yang pandai. Tapi, jika dilihat dan dibanding
negara lain, Mesir ternyata tak tergolong negara maju-maju amat, kata
trainer asal Kwitang, Jakarta itu.
Kunci sukses, kata dia, harus ikhlas dalam menjalani hidup. Harus
bijak dalam mengelola pikiran dan berfikir selalu terbuka (open mind),
hindari komplain, banyak bersyukur, respek pada orang lain dan tumbukan
kebersamaan dalam bekerja.
Sementara itu, Kepala Biro Kepegawaian Dr. H. Mahsusi MM dalam
sambutannya seusai mendengarkan ceramah berharap agar seluruh karyawan
biro kepegawaian dapat mengamalkan butir-butir yang disampaikan
penceramah. Bersikap jujur dan kebersamaan perlu dikedepankan.
Terlebih lagi, memasuki Ramadhan, hendaknya pesan dari penceramah
dapat menjadi inspirasi untuk dapat bekerja lebih giat bekerja. Bekerja
harus sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku, berdisiplin
serta penuh semangat. Dalam kaitan Ramadhan, ia pun berpesan agar
seluruh karyawan membuka diri untuk saling bermaafan.
“Jika ada yang masih beku, hendaknya mulai sekarang segera dapat
mencair. Sehingga kedepan semua bisa melangkah kedalam suasana lebih
baik lagi,” ujar Mahsusi.(ant/ess)http://www.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=99435

Komentar
Posting Komentar